Oleh: Erna Ummu Aqilah

Sebentar lagi rakyat Indonesia melaksanakan pesta demokrasi, dan saat ini suasa politik sudah mulai hangat dan memanas. Ditandai dengan adanya berbagai baliho calon anggota dewan, dari berbagai partai yang mulai bertebaran di seluruh pelosok negeri. Dan para ketua partai politik saling berkoalisi mengusung calon presidennya.

Dengan berbagai foto disertai senyum termanis, dan berbagai janji politik terpampang di berbagai sudut negeri, tak terkecuali pohon-pohon dijadikan tempat memajang foto para caleg.

Berbagai bentuk kampanye untuk menarik calon pemilih telah dilakukan, baik kampanye secara langsung maupun lewat berbagai media.

Dalam sistem demokrasi para caleg dipilih langsung oleh rakyat, agar bisa mewakili aspirasinya. Jadi apabila mereka telah terpilih dan menjadi penguasa, benar-benar membuktikan janji kampanyenya. Yakni bekerja keras demi kesejahteraan rakyat, sebab mereka telah disumpah dengan kitab suci, dan mempertanggungjawabkan seluruh janji dan sumpahnya kepada Allah SWT serta seluruh rakyat Indonesia.

Faktanya tidak semua pejabat yang terpilih, benar-benar menjalankan amanat dari rakyat yang memilihnya. Bahkan disinyalir lebih mengutamakan kepentingan partai yang telah mengusungnya, dari pada kepentingan rakyatnya. Alhasil kebijakan yang diambil sering tidak pro rakyat.

Jika sudah demikian, kewajiban rakyat adalah mengoreksinya. Namun sering kali kritik dari rakyat, justru dianggap hinaan dan ancaman. Bahkan dituduh tidak bersyukur, sebab sudah hidup dan mencari makan di negeri ini. Dan yang paling ekstrim justru dianggap membuat kegaduhan dan berbagai tuduhan lainnya.

Benarkah kritik kepada penguasa termasuk kufur terhadap nikmat Allah SWT? Atau justru sebaliknya?

Dalam sistem demokrasi, kritik terhadap penguasa merupakan hak rakyat yang dilindungi oleh UUD 45. Meskipun demikian, kritik juga harus disertai dengan adab.

Dalam Islam kritik merupakan salah satu bentuk amal makruf nahi mungkar, dan bukti cinta serta syukur terhadap nikmat Allah SWT.

Syukur level pertama adalah, dengan menerima qadha Allah serta mengucapkan kata alhamdulillah. Sedangkan syukur level tertinggi adalah, dengan memanfaatkan seluruh nikmat yang telah Allah berikan, dengan cara menggunakan akal dan lisan untuk menegakkan kalimat yang haq.

Jadi ketika melihat ketidakadilan atau kedzaliman yang telah dilakukan penguasa, bentuk rasa syukur dan cinta kita dengan cara melakukan kritik padanya.

Menganggap kritik bentuk rasa tidak syukur bahkan kufur nikmat, adalah kebodohan yang hakiki. Sebab Rasulullah Saw telah bersabda: “Jihad yang paling utama adalah, mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim”. (HR Abu Daud no.4344, Tirmidzi no.2174, Ibnu Majah no.4011).

Jadi kritik terhadap penguasa merupakan salah satu bentuk amal makruf nahi mungkar, dan termasuk jihad yang paling utama, sekaligus bentuk cinta terhadap negri ini.

Apalagi jika kritik disertai nasihat dan solusi terbaik untuk negeri ini. Yakni dengan mengingatkan para penguasa agar kembali kepada hukum-hukum Allah SWT. Agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara, bukan sekedar dijadikan alat sumpah jabatan semata. Sehingga seluruh persoalan yang ada dapat diselesaikan dengan sempurna. Agar seluruh negeri ini, baik rakyat maupun para penguasanya bisa bahagia serta selamat dunia akhirat.

Wallahualam bishshawwab.