Oleh: Yani Suryani

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita kematian seorang ibu dan anak. Kematian keduanya diketahui setelah petugas keamanan merasa aneh karena sudah hampir satu bulan tidak pernah melihat keduanya.

Lewat keanehan itulah, akhirnya menguak kondisi penghuni rumah yang berada di Kawasan Depok tersebut yang sudah tak bernyawa. Kondisi jasad  yang berada di kamar mandi rumah tersebut sudah mengering.

Beredar kabar pula bahwa semasa hidup,  ibu dan anak tersebut sangat menutup diri dan jarang berinteraksi setelah ditinggal kepala keluarganya. Jangankan dengan tetangga, saudara pun yang secara ikatan darah terakhir berkomunikasi dua bulan yang lalu.

Bahkan, menurut penuturan  warga sekitar sangat jarang bertemu, biasanya bertemu pun secara tidak kebetulan saat membuang sampah. Gambaran yang ditulis merupakan Kumpulan dari berbagai berita yang beredar.

Saat ini abad 21, zaman canggih bahkan  sebagian orang mengatakan, industry 4.0,  bahkan Jepang menjadi negara pertama yang  sudah ke 5.0. Luar biasa dari sisi teknologi.

Saat ini Kita tidak perlu bertatap muka secara langsung, kita dapat menggunakan banyak aplikasi untuk sekedar mengetahui kabar dan keberadaan saudara, teman, keluarga atau siapa pun. Sudah tidak ada jarak saat ini.

Jika dulu kita sering mendengar bahwa jarak memisahkan, namun saat ini dengan adanya teknologi kita dapat mengatakan bahwa sinyal dapat menyatukan.

Kasus yang terjadi di atas mungkin hanya satu dari banyak kasus yang terjadi di negeri ini. Sepertinya amat sangat disayangkan sampai terjadi. Bukankah negara Indonesia merupakan negara yang memiliki sifat ketimuran dan dikenal sebagai negara yang memiliki budaya  kepedulian.

Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab seolah lupa sehingga kita saat ini terlalu asyik dan sibuk dengan urusan pribadi sehingga diinding tembok yang membatasi seolah menjadi benteng tebal yang memisahkan.

Apa sebenarnya yang mengakibatkan kondisi seperti ini sehingga begitu sulit kepedulian dan kepekaan itu ada disekitar kita. Bukankah banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap kejadian, bahkan pelajaran bertema peduli dan peka dari semua lembaga pendidikan mulai tingkat usia dini hingga jenjang yang amat tinggi selalu mengajarkan. Bahkan semua agama mengajarkan tentang kepedulian dan kepekaan itu sendiri.

Dalam Islam terhadap tetangga kita harus berlaku baik dan menghormatinya. Bahkan kita harus memuliakannya. Lalu jika fakta sekarang jangankan untuk menghormati dan memuliakannya jika kita tidak pernah tahu kondisi apa yang terjadi pada tetangga kita.

Sepertinya ada yang harus diperbaiki dalam tata pergaulan di lingkungan kita. Memang saat ini kita seolah disibukkan dengan aktivitas yang kadang membuat kita tak kenal dengan tetanggga kita. Tak tahu kabar beritanya. Lalu jika sudah seperti ada pekerjaan rumah yang harus kita lakukan b ersama untuk   berupaya agar kita  peduli dan mengetahui kabar tetangga.

Pertemuan rutin mingguan atau pun pengajian bisa dijadikan uslub agar kita tahu kondisi tetangga. Apalgi dalam Islam menuntut ilmu merupakan kewajiban, lewat pengajian kita akan mendapatkan banyak ilmu dan juga berkah silaturahmi. Pengajian bukan aktivitas bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan tapi pengajian adalah sarana yang pelakunya akan dinaungi oleh malaikat  saat berjalan menuju majelis hingga kembali ke rumah.

Jika mendapati tetangga yang kurang baik saja Rosul mencontohkan dengan hal baik, apalagi tetangga yang sangat baik dan selalu menghormati tetangganya. Di kutip dari buku Nabi Muhammad, sehari-hari karya Muhammad Ismail Al-Jawisy, Rosul mengajarkan bersabar terhadap perlakuan tetangga yang kadang menyakitkan, dan hendaknya perlakuan tersebut dibalas dengan kebaikan agar hubungan baik sesama tetangga. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkan kita peduli dan peka terhadap tetangga?

Penulis adalah Guru Madrasah di Tigaraksa