Waspada Bencana, Okta Imbau Pemerintah dan Warga Kerjasama Antisipasi Banjir

Tangsel – Banjir merupakan salah satu bencana yang setiap tahun sering melanda Indonesia. Hingga saat ini masalah banjir masih belum sepenuhnya bisa diatasi.

Calon Legislatif dari Partai Amanat Nasional, Okta Kumala Dewi mengingatkan kepada masyarakat khususnya warga Tangerang Raya agar waspada terhadap luapan air jika terjadi hujan lebat yang nantinya dapat naik secara tiba-tiba ke ruas-ruas jalan hingga permukiman warga.

Dalam sepekan terakhir ini, kawasan Tangerang Raya mulai Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang dilanda banjir yang cukup parah akibat curah hujan yang besar. Malah pada Sabtu 6 Januari 2024, tiga bocah di perumahan Puri Kartika, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang hilang terbawa arus banjir saat mereka bermain.

Okta yang mewakili Daerah Pemilihan Banten 3 ini mengingatkan kepada seluruh orang tua untuk selalu mengawasi anak-anaknya saat bermain diluar rumah jika terjadi banjir, terutama disekitar daerah sekitar sungai dan jalan, mengingat saat intensitas hujan tinggi tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan debit air meningkat dan arus sungai deras.

“Jangan biarkan mereka lepas dari pengawasan saat terjadi banjir,” katanya.

Menurut Okta, masyarakat sudah mulai melakukan langkah-langkah antisipasi secara mandiri. Seperti, menjaga dan menempatkan barang-barang penting di tempat yang lebih aman, membuang sampah pada tempatnya, membuat biopori, serta menjaga berbagai infrastruktur sistem pengendali banjir yang selama ini telah disiapkan, seperti pintu air, drainase, turap, dan pompa pengendali banjir di sekitar lingkungan masing-masing.

Bencana banjir menurut Okta yang juga seorang pengusaha ini, adalah masalah serius yang mempengaruhi kehidupan banyak orang. Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan seperti banyak kota besar di Indonesia, mengalami peningkatan banjir karena berbagai faktor termasuk curah hujan yang tinggi, perubahan lingkungan, dan pola pembangunan yang kurang teratur.

Malah menurut Okta, banjir di kawasan Tangerang bukan hanya masalah alam, tetapi juga merupakan dampak dari aktivitas manusia. Pertumbuhan perkotaan yang cepat seringkali mengorbankan sistem drainase dan lahan hijau, menyebabkan air hujan sulit diserap dengan baik. Pembangunan tanpa perencanaan yang baik juga dapat mempersempit sungai dan saluran air, menghambat aliran air secara alami.

Reaksi terhadap banjir ini menunjukkan perlunya upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Okta mengatakan tindakan konkret seperti pemeliharaan sistem drainase yang baik, penghijauan kota, penataan tata ruang yang lebih terencana, dan pendidikan kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah dan lingkungan.

Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran akan adaptasi terhadap perubahan iklim. Perubahan pola cuaca yang tidak terduga dapat mengakibatkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang berdampak pada banjir.

Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi dan adaptasi harus terus ditingkatkan. Komitmen jangka panjang dari semua pihak, termasuk pemerintah, warga, dan pemangku kepentingan lainnya, sangat penting untuk mengatasi masalah banjir di kawasan Tangerang.

”Masyarakat juga harus sadar dan waspada dengan bencana banjir ini. Saatnya pemerintah dan masyarakat bekerjasama dan bergotong royong untuk antisipasi bencana banjir ini dan jangan saling menyalahkan,” pungkasnya. (red)